Rss
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG, JANGAN LUPA KESINI LAGI WWW.AHMAD-SAHID.BLOGSPOT.COM BLOG RESMIAHMAD SAHID, Temukan Info info menarik di blog ini ya
Tampilkan postingan dengan label Dzikrullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikrullah. Tampilkan semua postingan

3 Oktober 2010

Dzikrullah

8 Agustus 2010

Hakikat Manusia

A. Kesadaran Diri.
Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi,
tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya.
Alqur'an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai
kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu.
Saat dimana muncul ketikan dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkan
eksistensi. Dimana keberada- annya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan
arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya.
Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi
suatu pertanyaan filosofis yang mendesak : "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan
harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan
bukannya tidak bereksistensi?"
Mengemukakan masalah mengenai pribadi dalam ungkapan-ungkapan tersebut, berarti
mengemukakan masalah kebebasan, masalah tanggung jawab. Hal ini membawa kita
kepada penelitian mengenai dasar dari asal usul. Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi
tanggung jawab. Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Apakah Allah
itu masuk dalam definisi manusia atau tidak? Apakah eksistensi manusia itu bersifat
teosentris ataupun antroposentris? Partisipasi ataupun cukup dalam dirinya sendiri? Ada
apakah dengan pernyataan ulama populer "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu?"
(barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan Tuhannya).
Dalam arti yang sebenarnya, kata "eksistensi" berarti data kosmis, sejauh manusia yang
terlibat secara aktif di dalamnya. Hubungan erat antara masalah manusia dan masalah
ketuhanan, terlihat baik pada mereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang
mengikuti-Nya. Kecenderungan tersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang
tidak bisa dipungkiri dan merupakan fitrah manusia.
Mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri religiusitas dalam pengertian apapun,
baik yang sejati maupun yang palsu. Sebenarnya adalah sama dengan menga-takan bahwa
setiap pribadi memiliki naluri untuk berkepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya,
naluri itu muncul berbarengan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup ini
sendiri dan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup itu. Karena itu setiap orang dan
masyarakat pasti mempunyai keinsafan tertentu tentang apa yang dianggap "pusat" atau
"sentral" dalam hidup seperti dikatakan oleh Mircea Elidae :
"Setiap orang cenderung, meskipun tanpa disadari mengarah kepusat dan menuju pusat
sendiri, dimana ia akan menemukan hakekat yang utuh yaitu rasa kesucian. Keinginan yang
begitu mendalam berakar dalam diri manusia untuk menemukan dirinya pada inti wujud
hakiki itu di pusat alam, tempat komunikasi dengan langit -menjelaskan penggunaan
dimana akan ungkapan pusat alam semesta"
Disini kita akan mencoba menelusuri secara beruntun dari dasar sekali. Alqur'an
menyebutkan dalam Surat Adz dzariat 21: "Dan juga pada dirimu, maka apakah kamu
tiada memperhatikan"

Juga dalam surat Al hijir 28-29 : "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat : sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh (cipataan)Ku, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (QS Al hijir 28-29).
Dalam kerangka ini kita mengambil garis yang jelas dari peristiwa kejadian manusia,
dimana para makhluk baik itu setan maupun malaikat mempertanyakan kebijakan Allah
yang akan menciptakan manusia, yang menurut pandangan malaikat "manusia" adalah
makhluk yang selalu membuat keonaran dan pertumbahan darah (QS Al baqarah 30).
Tidak kalah sengitnya setan memprotes keberadaan manusia yang dipandang rendah, yang
hanya diciptakan dari unsur tanah, sambil membanggakan dirinya yang dibuat dari api.
Dalam keadaan ini para malaikat gigit jari dan begitu terheran-heran : rahasia macam apa
ini? Bumi yang hina-dina dipanggil kehadirat Zat yang maha tak terjangkau dengan
segenap kehormatan dan kemuliaan ini.
Kelembutan illahi dan kebijakan Tuhan berbisik lembut ke dalam relung rahasia dan
misteri malaikat, "Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui" (QS :2:30).
Raga manusia termasuk kedalam derajat terendah, sementara ruh manusia termasuk ke
dalam derajat tertinggi. Hikmah yang terkandung dalam hal ini ialah bahwa manusia mesti
mengemban beban amanat pengetahuan tentang Allah. Karena itu mereka harus
mempunyai kekuatan dalam kedua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan. Sebab tidak
sesuatupun di dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban amanat.
Mereka mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifatnya (sifat-sifat ruhnya), bukan
melalui raganya.
Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dari yang tinggi, tidak satupun di
dunia ruh yang menyamai kekuatannya, entah itu malaikat maupun setan sekalipun atau
segala sesuatu lainnya. Demikian pula, jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling
rendah, sehingga tidak sesuatupun di dunia jiwa bisa mempunyai kekuatannya, entah itu
hewan dan binatang buas atau yang lainnya. Ketika mengaduk dan mengolah tanah, semua
sifat hewan dan binatang buas, semua sifat setan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda
mati diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untuk mengejawantahkan sifat "dua
tangan-Ku". Karena masing-masing sifat tercela ini hanyalah sekedar kulit luarnya saja, di
dalam setiap sifat itu ada mutiara dan permata berupa sifat illahi.
Penjelasan diatas merupakan urutan ungkapan mengenai hakekat diri yang sebenarnya,
dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan hina disisi lain dinobatkan sebagai
"khalifah" (wakil Allah). Bertugas mengatur alam semesta dan merupakan wakil Allah
untuk menjadi saksi-Nya serta mengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya. Para mahkluk
yang lain tidak melihat ada dimensi yang tidak bisa dijangkau olehnya, ia hanya mampu
melihat pada tingkat yang paling rendah dalam diri manusia. Sementara ia terhijab oleh
ketinggian derajat manusia yang berasal dari tiupan illahi (QS Al Hijir 28-29).
Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu secara berurutan
dalam memahami manusia. Hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak
berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya
sendiri.

Al Ghazaly yang hidup pada abad pertengahan tidak terlepas dari kecenderungan umum
pada zamannya dalam memandang manusia. Didalam buku buku filsafatnya ia mengatakan
bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap, tidak berubah-ubah yaitu An
nafs (jiwanya). Yang dimaksud an nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak
bertempat dan merupakan tempat pengetahuan intelektual (al makulat) yang berasal dari
alam malakut atau alam amr. Ini menunjukkkan esensi manusia bukan fisiknya dan bukan
fungsi fisik. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat. Dan fungsi fisik adalah
sesuatu yang tidak berdiri sendiri. Keberadaannya tergantung kepada fisik. Alam al amr
atau alam malakut adalah realitas diluar jangkauan indra dan imaginasi, tanpa tempat,
arah dan ruang. Sebagai lawan dari alam al khalq atau alam mulk yaitu dunia tubuh dan
aksiden-aksidennya esensi manusia, dengan demikian an nafs adalah substansi immaterial
yang berdiri sendiri dan merupakan subyek yang mengetahui (Bashirah).
Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut an nafs, Al Ghazaly
mengemukakan beberapa argumen. Persoalan kenabian, ganjaran perbuatan manusia dan
seluruh berita tentang akhirat tidak ada artinya apabila an nafs tidak ada, sebab seluruh
ajaran agama hanya ditujukan kepada yang ada (al maujud) yang dapat memahaminya.
Yang mempunyai kemampuan bukanlah fisik manusia sebab apabila fisik manusia
mempunyai kemampuan memahami, objek-obyek fisik lainnya juga mesti mempunyai
kemampuan memahami. Kenyataan tidak demikian. Argumen bersifat keagamaan ini ,
bagaimanapun tidak dapat meyakinkan orang yang ragu terhadap kenabian dan hari
akhirat. Karena untuk mempercayai argumen ini orang terlebih dahulu harus percaya
akan kenabian dan hari akhirat.
Selain itu Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan faktual dan
kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda dengan argumen-argumen yang
dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan
kenyataan faktual. Al Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup
terdapat perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-masing.
Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat geraknya. Benda mati
mempunyai gerak monoton dan didasari oleh prinsip alam. Sedangkan tumbuhan makhluk
hidup yang paling rendah tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga
mempunyai kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa
vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada tumbuh-tumbuhan,
yang menyebabkan hewan, selain kemampuan bisa bergerak bervariasi juga mempunyai
rasa. Prinsip ini disebut jiwa sensitif. Dalam kenyataan manusia juga mempunyai kelebihan
dari hewan.
Manusia selain mempunyai kelebihan dari hewan. Manusia juga mempunyai semua yang
dimiliki jenis-jenis makhluk tersebut, disamping mampu berpikir dan serta mempunyai
pilihan untuk berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai prinsip
yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut an nafs al insaniyyat. Prinsip
inilah yang betul-betul membedakan manusia dari segala makhluk lainnya.
Argumen kesadaran langsung yang dikemukakan seorang manusia menghentikan segala
aktivitas fisiknya1, sehingga ia berada dalam keadaan tenang dan hampa aktivitas. Ketika
ia menghilangkan segala aktivitasnya, menurut Al Ghazaly, ada sesuatu yang tidak hilang
di dalam dirinya yaitu "kesadaran" yakni kesadaran akan dirinya. Ia sadar bahwa ia ada.
Bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Pusat kesadaran itulah yang disebut an nafs al insaniyyat

(diri sejati). Dikatakan dalam suatu tafsir shafwatu at tafasir karangan prof. As
Shabuny dalam surat Al qiyamah ayat 14: "akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah
(yang tahu)."
Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun
sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah "Aku".
Wujud "Aku" yang memiliki sifat tahu yang memperhatikan dirinya atas perilaku hati,
kegundahan, kebohongan, kecurangan, serta kebaikan. Ia tidak pernah bersekongkol
dengan perasaan dan pikiran, ia jujur dan suci, sehingga manusia, setan dan jin tidak bisa
menembus alam ini karena ia sangat dekat dengan Allah sekalipun manusia itu jahat dan
kafir. Adalah pernyataan Allah atas pengangkatan sebagai wakil Allah, sehingga Allah
menyebut tentang "Aku" ini sebagai ruh-Ku. Yang oleh As Shabuny sebagai penghormatan
yang maha tinggi seperti penghormatan Allah terhadap Baitullah (rumah Allah).
Ketika itu yang disadari bukan fisik dan yang sadarpun bukan fisik. Kesadaran disini tidak
melalui alat, tetapi bersifat langsung. Oleh karena itu subyek yang sadar itu jelas bukan
fisik dan bukan fungsi fisik melainkan sesuatu substansi yang berbeda dengan fisik.
Mungkin juga dikatakan disini tidak bersifat langsung, tetapi melalui perantara, yaitu
melalui perbuatanku. Dalam perbuatanku ada yang mendahului, yaitu kesadaran akan aku
yang menjadi subyek perbuatan itu. Kesadaran disini bagaimanapun bersifat langsung dan
terlepas dari aktivitas fisik. Dengan demikian subyek yang sadar, yang menjadi esensi
manusia itu nyata ada dan merupakan substansi yang berbeda dengan fisik.
Hal ini terbukti ketika manusia kehilangan aktivitas pada moment menjelang tidur. Sang
"Aku" (kesadaran) mengetahui dengan sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi.
Begitupun Kehidupan keruhanian dalam mendasari kesadaran ihsan dengan menghentikan
aktivitas fisik sebagai kendali sahwati, maka yang timbul adalah kesadaran diri yang
mampu menembus alam malakut dan uluhiah. Dimana manusia mencapai puncak eksistensi
yang sejati. Kesejatian inilah yang di tuntut oleh Allah dalam hal melakukan peribadatan,
apakah puasa, zakat, dan shalat. Dengan konteks "ihklaskanlah peribadatanmu dengan
tidak melakukan kesyirikan sedikitpun" (QS. Az Zumar 11 & 14).
Aktivitas ruhani yang diajarkan oleh Allah adalah peribadatan saum yang mana manusia
dalam sementara waktu diwajibkan mengendalikan emosinya dan aktivitas keinginan hawa
nafsu selama satu bulan di bulan ramadhan. Selama satu bulan penuh menahan rasa dan
keinginan ragawi, samar-samar akan terjadi proses transformasi kejiwaan yang tadinya
emosional berubah menjadi ketenangan, dan fisik seolah tidak lagi menuruti keinginannya,
sehingga sang fisik mengikuti kehendak-kehendak diri yang sejati. Maka oleh Allah
dikatakan mereka itu telah mendapatkan karunia lailatul qadar, dimana ia mampu
menembus seluruh semesta ruhani dan kembali sebagai manusia sejati dan fitrah.
Keadaan Fitrah ini diungkap Al qur'an, bahwa apabila telah terjadi fitrah pada diri
manusia maka sesungguhnya fitrah itu sama dengan kehendak Allah (QS. 30:30): "Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah)fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Dalam hal ini manusia tersebut mendapat karunia kepatuhan dan ketaqwaan seperti
patuhnya alam semesta serta patuhnya tubuh manusia, dimana dimengerti bahwa tidak
pernah dirinya merencanakan ada, kemudian kenapa aku ini laki-laki? Atau nafas ini
mengalir keluar masuk tanpa aku kehendaki dan bisakah aku menangguhkan jangan keburu
tua dulu. Hal ini merupakan renungan hakiki, kenapa pikiran ini tidak sepatuh alam dan
tubuh yang diselimuti kekuasaan Allah. Ia begitu tampak jelas dalam gerakan dan
keberadaan alam dan diri ini.
Dengan argumen di atas bahwa an nafs berdiri sendiri dipertegas bahwa ia tidak
bertempat, baik didalam badan maupun diluar badan. Karena an nafs bukan materi maka
dengan sendirinya tidak mengambil ruang dan tidak mempunyai tempat. Sifat dasar an
nafs tidak mengandung kemungkinan bertempat. Artinya pernyataan tempat tidak sesuai
dihubungkan kepada an nafs, sebagaimana tidak sesuai sifat mengetahui atau tidak
mengetahui diletakkan pada benda mati.
Al Ghazaly tidak menerima pandangan bahwa an nafs berada di luar badan. Sebab an nafs
dalam keadaan demikian, menurutnya tidak mungkin mengatur badan, tetapi kalau an nafs
berada di dalam badan keberatan lain akan timbul. An nafs bertempat di dalam badan
tidak terlepas dua kemungkinan, yaitu bertempat pada seluruh badan atau pada
sebagiannya saja. Kalau ber-tempat pada seluruh badan, an nafs semestinya menyusut
atau berpindah, jika sebagian anggauta tubuh manusia terpotong dan ini tidak mungkin.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa esensi atau hakikat manusia adalah substansi
immaterial yang berdiri sendiri, bersifat illahi (berasal dari alam amr), tidak bertempat
di dalam badan, bersifat sederhana, mempunyai kemampuan mengetahui dan
menggerakkan badan, diciptakan (tidak kadim) dan bersifat kekal pada dirinya. Ia berusaha
menunjukkan bahwa kesadaran jiwa dan sifat-sifat dasarnya tidak dapat diperoleh
melalui akalnya saja, tetapi dengan akal dan sara' . Untuk itu selain kutipan ayat 29 surat
Al Hijir di atas juga ayat-ayat yang lain yang menerangkan esensi manusia seperti surat
Ali Imron 169 : "Jangan engkau sangka orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah itu
mati, mereka itu hidup dan diberi rezeki disisi Tuhan."
"Katakan jiwa itu dari amr Tuhanku." (QS. Al Isra 85).
Ayat yang pertama menunjukkan kekekalan jiwa dan ayat yang kedua untuk menunjukkan
bahwa ia berasal dari dunia yang sangat dekat dengan Allah, alam amr.
Pembangkitan kesadaran akan diri, dikatakan para ulama kerohanian sebagai ajang
mujahadah untuk menemukan kesejatian, dan dengan kesejatian itu pula manusia akan
mencapai hakikat "diri" serta terbukanya kebenaran adanya Allah secara hakiki, yakni
makrifatullah.
Periode pertengahan kejayaaan islam di jawa, berlangsung semaraknya hidup
berkerohanian yang dipelopori para dai (wali songo) masa itu.
Namun kita melihat kelebihan dan kekurangan metode yang diajarkan, masih banyak
menyesuaikan budaya masyarakat kerohanian hindu. Sehingga peribadatan yang masih
tersisa sekarang kelihatan asimilasi peninggalan hindu dan budha. Akan tetapi kita
melihat dengan jernih ajaran yang disampaikan oleh beliau dengan tetap memurnikan
ketauhidan kita kepada Allah. Misalnya dalam mantra ber-bahasa jawa, tentang perenungan hakiki manusia serta penyadaran dan pencarian kesejatian yang dikatakan
dalam Al qur'an sebagai "bashirah" (Aku yang mengetahui).
Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang). Melebu
Allah..metu Allah (masuknya nafas karena Allah…keluarnya nafas karena Allah).
Anekadaken urip iku Allah (yang mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate
Allah (otak letakkan atas kodrat Allah). Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah (ya
hu ... Allah ya hu ... Allah ya hu ... Allah). Nabi Muhammad iku utusane Allah (nabi
Muhammad itu rasullullah).
Artinya : (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra ini diperlukan penghayatan dan
pendalaman makna yang hakiki).
Masuk dan keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah. Manusia
hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allah yang meliputi nafas. Sehingga
fikiran ini diajak patuh dan pasrah bersamaan dengan patuhnya nafas tanpa reserve
(totalitas).
Yang mengadakan hidup pada manusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana seluruh
makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan serta bumi, matahari semuanya
bergerak dinamis atas sifat hidup Allah (Al hayyu).
Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atas manusia, yang mana manusia
diwajibkan berfikir dan berkontemplasi untuk menyatakan sebagai wakil Allah (khalifah)
maka dengan itu otak harus sesuai dengan kehendak-kehendak Allah (perintah Allah).
Wahai zat yang tidak sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu
rasulullah.
Disini kita melihat sejarah manusia ketika mensikapi atas dirinya dalam pencarian diri
sejati secara universal. Al qur'an telah memaparkan sebelum para pemikir barat memulai.
B. Kesadaran Universal.
Menghayati mulai dari kesadaran fisik sampai kepada kesadaran transendental dimana
sejatinya manusia adalah sesuatu yang bukan fisik.
Dengan sejatinya inilah manusia menunaikan kebaktiannya kepada Allah sebagaimana
fitrahnya (QS Arrum : 30).
Al qur'an telah banyak mengungkapkan tentang apa dan siapa manusia sebenarnya. Namun
ungkapan ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila fikiran dan perasaan jiwa kita
tidak pernah dibawa ke alamnya secara nyata, bukan teori tasawuf yang sulit dimengerti.
Kesadaran dimulai yang sangat sederhana.
Adalah seorang bayi yang tiba-tiba lahir dengan proses alami. Ia lahir bukan karena
permintaan dan kehendaknya. Ia tidak mengerti untuk apa dilahirkan. Ia tidak punya
apa-apa bahkan telanjang serta malupun tidak punya. Kemudian sekelilingnya memberikan
kesadaran secara bertahap. Mulai dari pemberian nama dan identitas kelamin, dan
batasan kesadaran yang sangat sempit. Ia dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya siAnu dan jenis kelaminnya laki-laki. Diajarkannya pula nama-nama anggota tubuhnya, ini
telinga, ini kepala, ini tangan, dan seterusnya.
Kesadaran ini membuat terikat kepada sebatas apa yang ia terima (ketahui). Sehingga
sang diri terbelenggu dan tersesat dalam ketidaktahuan siapa yang sebenarnya diri ini.
Ada ungkapan rasullullah "barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan menjadi
hambanya".
Pakaian atau dodot dalam tembang ilir-ilir sunan Ampel adalah sesuatu yang menimbulkan
ikatan pada jiwa seseorang. Dalam filsafat perenial, pakaian adalah sesuatu yang binding
(mengikat) dalam jiwa manusia. Jika manusia melakukan sikap yang binding dengan dunia
sekelilingnya, jiwanya akan terkungkung dan kebebasannya (kesadarannya) terbelenggu.
Oleh karena itu manusia dalam hidupnya harus selalu berusaha melakukan unbinding
terhadap dunia sekitarnya.
Maksudnya manusia harus mulai menyadari keterbatasan dirinya yang selama ini kita
dijerumuskan oleh pengetahuan yang kita dapat, bahwa diri ini hanya terbatas pada mata,
telinga, kaki serta anggauta tubuh yang kelihatan. Namun hal ini mustahil kalau saya
ungkap secara detail dalam tulisan ini, sebab kesadaran ini harus dilakukan dengan latihan
dan pengisian ilmu pengetahuan tentang diri secara imanen transendental (pengalaman
langsung).
Mari kita perhatikan tentang apa sebenarnya tubuh ini. Hirupan nafas masuk ke tubuh,
lalu sekaligus mengeluarkan zat residu berupa asam arang. Sekadar bayangan kesadaran
tentang diri agaknya hal-hal di bawah ini akan menolong kita. Ibaratnya keadaan itu bisa
diserupakan dengan penerangan sebuah kota, yang dialirkan oleh sentral listriknya.
Perbandingan ini menjadi semakin tajam apabila disadari dengan ilmu bahwa apa yang ada
dalam kehidupan sehari-hari kita pandang (sadari) bentuk tubuh manusia adalah terbatas
pada garis nyata. Sehingga kenyataan ini membuat orang tertipu oleh pengetahuan yang
ia miliki.
Padahal lebih dari yang ia bayangkan, bahwa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung
adalah sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses. Dimana
segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi yang dinamai zarrah (atom).
Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir adalah satu unit tenaga listrik, yang energi
positifnya (proton) berjumlah sebanyak energi negatifnya (elektron). Di dalam atom ini,
terus-menerus setiap detik terjadi loncatan dan pancaran (charge and park). Itulah
semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari daya listrik. Maka semburan atau
loncatan yang tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini manusia
tidak mampu melihat dengan kasat mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup.
Sebagaimana Al qur'an mengungkap-kan tentang gunung yang dianggap oleh orang awam
seperti diam tak bergerak :
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia
berjalan sebagaimana jalannya awan" (An naml : 88). Bagi orang awam sebuah gunung atau pegunungan memang tampaknya kokoh berdiri di
tempatnya masing-masing. Jadi kalau benda-benda termasuk manusia yang dalam surat
Al hijir 28-29 diciptakan dari esensi alam.
Maka benarlah apa yang kita namai benda adalah sebuah bongkahan besar "runtutan
peristiwa" loncatan listrik. Maka disini tidak sama sekali dijumpai lagi suatu yang padat
atau baku (tetap). Bahan yang dipakai untuk pembentukan alam dan manusia bukanlah
benda atau zat-zat akan tetapi ialah "aksi" yaitu aliran berangkai dari peristiwaperistiwa.
Tidaklah mengherankan bahwa dari bahan-bahan yang sangat labil ini terbentuklah alam
yang selalu berubah-ubah, menjelma dari bentuk ke bentuk mengikuti suatu proses
evolusi.
Sampai disini kesadaran kita sampai kepada tahapan yang agak abstrak, dimana
penglihatan kita malah seakan-akan kehilangan penglihatan dimana bentuk tubuh yang
selama ini kita sadari. Jelas hal ini membigungkan kesadaran yang telah lama terpatri.
Namun kita telah mencoba melakukan pembangkitan kesadaran yang lebih luas. Yaitu
kesadaran dimana tubuh bukanlah apa yang kita lihat seperti ini. Tubuh adalah susunan
inti materi yang setiap saat berubah dan berganti. Terbatasnya kesadaran bahwa badan
bukan lagi sekedar tangan, kaki, kepala. Akan tetapi berubah meluas menjadi kesadaran
universal, yaitu kesadaran yang tidak ada batas. Pada tingkat kesadaran ini kita agak
bingung, yang mana sebenarnya wujud ini sebenarnya. Karena setelah ditelusuri secara
rinci, bahwa badan yang tadinya disadari sebagai sosok laki-laki atau wanita yang punya
rupa cantik dan gagah. Pelan-pelan terhapus oleh kesadaran yang lebih luas, yaitu
kesadaran jagat raya atau disebut kesadaran makrokosmos. Bahwa wujud badan ini tidak
lagi sesempit dulu, aku tidak lagi sebatas kepala, tangan, dan kaki saja. Akan tetapi
badanku adalah angin yang bergerak, atom-atom yang bertebaran serta bergantian saling
tukar dengan benda-benda yang lain, badanku adalah butiran-butiran zarrah yang saling
mengikat, ya .. aku saling ikat dengan tumbuhan, binatang, bumi serta dengan angkasa
yang maha luas. Badanku adalah jagad raya. Dimana kesadaran sudah berubah luas dan
menjadi satu kesatuan dengan lingkugan kita. Kesadaran ini akan memudahkan
mengidentifikasikan siapa diri sebenarnya. Setelah tahu esensi badan ini. Yaitu
kesadaran hakiki yang menggerakkan dan mengatur alam semesta.
Dikatakan dalam Al qur'an : "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan
untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya
dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah -(atau tanda-tanda kekuasaan Allah)
bagi orang-orang yang mempergunakan akal". (QS An Nahl 12).
Sebenarnya di dalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah menunduk-kan dan
mengatur kelakuan matahari, bintang dan bulan dengan perintah-Nya. Peraturan inilah
yang diikuti oleh seluruh alam semesta (makrokosmos), bagaimana ia harus bertingkah
laku. Ia juga disebut hukum alam, atau peraturan yang diikuti oleh alam.
Lebih jelas lagi bila kita baca ayat 11 surat Fushilat : "Kemudian Dia mengarah kepada
langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Silahkan
kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau dengan terpaksa". Jawab mereka :
"Kami mengikuti dengan suka hati". Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan peraturan sang
pencipta. Dan peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak berubah selamanya,
seperti yang telah ditegaskan dalam ayat 23 surat Al Fath : Artinya : "Sebagai sunatullah
(atau peraturan Allah) yang telah berlaku sejak dahulu, sekali-kali kamu tak akan
menemukan perubahan bagi sunatullah (atau hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah)
itu.
Apabila zat-zat, tubuh manusia dan benda-benda dalam alam sudah dipahami sebagai
rangkaian kejadian-kejadian, serta menurut kemauan sunatullah. Maka sebenarnya atomatom
atau zarrah bergerak bukan atas kemauannya sendiri, akan tetapi ada sosok yang
bukan dirinya.
Dimana atom-atom itu bergerak mengikuti kekuatan yang maha besar. Benda-benda kecil
itu hanya patuh terhadap yang tidak bisa diperbandingkan dengan sesuatu. Wujud itu
begitu absolut. Ternyata benda-benda ini mati. Akan tetapi ia bergerak dan dihidupkan
oleh suatu kuasa yang maha besar. Itulah metakosmos yang hidup, yang perkasa, yang
meliputi segala benda. Ialah Rabbul alamin…..
Pada kesadaran ini sebaiknya kita berhenti sejenak dan jangan dipahami dengan pemikiran
yang berlarut-larut. Biarkan Allah yang akan menuntun hati dan pengetahuan tentang
ilmu selanjutnya dengan tetap mematuhkan jiwa dan tubuh kita kehadirat Allah yang
maha suci.
Apabila kita meluruskan pandangan jiwa dan tubuh kita terhadap perintah-perintah-Nya
(Ad dien) serta menundukkan dan memasrahkan segala ketaatan. Tubuh ini akan taat
seperti taatnya alam semesta tanpa kita rekayasa, ia akan hidup seperti hidupnya alam,
serta ia akan teratur seperti teraturnya matahari serta planet-planet yang tidak
berbenturan. Ia akan patuh seperti patuhnya malaikat.
Demikianlah justru menurut pikiran logis, bahwa adanya diri (mikrokosmos), dan alam
semesta (makrokosmos), telah mengajak kesadaran untuk sampai kepada pembuktian
adanya Allah yang maha ghaib (metakosmos).
Pada pembahasan kali ini, mungkin ada hal-hal yang menyulitkan pembaca memahami
hakikat diri. Untuk itu maka selanjutnya penulis akan mengajak para pembaca masuk ke
dalam dunia yang lebih kongkrit, yaitu bagaimana melakukan dan memasuki dunia rohani
dengan benar. Pada bab-bab berikutnya akan saya untai praktek-prakteknya dan pembaca
bisa mengikuti dengan seksama.
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"

5 Agustus 2010

Syariat Sebagai Gerbang Dunia Hakikat.


Oleh Abu Sangkan


Umat islam masa sekarang ini banyak yang mengalami kehilangan arah dan tempat pijakan.
Dari mana harus memulainya. Mereka terpuruk dan ingin cepat bangkit dari
ketertinggalannya. Hal tersebut tampak dari semangat yang kadang berlebihan dengan
diiringi emosi yang tinggi, sehingga hal itu memudahkan musuh-musuh islam untuk
mensiasati dan menjadikan umat islam sebagai kaum teroris dan berbagai kesan kurang
baik lainnya. Hal ini harus diakui merupakan keteledoran umat islam dalam melaksanakan
ajaran dengan pengertian yang keliru.
Islam harus kembali kepada hati yang suci, yang dalam firman Allah dikatakan ...."yang
mampu memuat Dzat-Ku". Dengan demikian seharusnya manusia akan berkata-kata dengan
Rab-nya tentang hidup, tentang ilmu, tentang informasi dan rencana-rencana untuk
menghadapi semua permasalahan di dunia maupun di akhirat. Bukankah Allah berjanji akan
melindungi seorang mukmin dengan mengalahkan sepuluh orang musuh ?.
Kaum yang sedikit dengan kekuatan spiritual yang luar biasa mampu mengalahkan perang
badar yang dahsyat. Nabi Musa dengan keteguhannya dalam bertauhid mampu
mengalahkan Raja Fir’aun. Dan masih banyak lagi pejuang-pejuang sahid kita dalam
menghadapi musuh dengan tetap teguh pada jalan tauhid dan komunikasi kepada Allah
Yang Agung.
Kita sadar bahwa begitu agungnya Al Quran, dan begitu piciknya kita dalam memahami
syariat, sehingga kita lihat ummat Islam sekarang terpuruk dan saling menyalahkan. Kita
lihat pula gerakan atau harokah-harokah islam muncul dimana-mana dengan berbagai
bentuk penawaran berupa konsep keislaman yang lebih murni. Namun apa yang terjadi,
kenyataannya mereka masih sangat rapuh sehingga antara mereka masih mengadakan adu
otot dikhalayak ramai bahkan seperti anak kecil saling cemooh dan masing-masing pihak
merasa yang paling benar dan islami.
Satu hal yang belum ada dalam jiwa ummat yaitu kelembutan hati akibat jauhnya dari
ingat kepada Allah, memulainya tindakan sesuatu bukan dilandasi karena Allah, serta
kurang siapnya kita dalam menembus hati-hati yang panas dan gersang dengan sapaan jiwa
yang manis penuh kasih.
Kita belum memiliki keberanian untuk mengatakan akulah yang salah dan terima kasih atas
nasihatmu. Padahal untuk hal seperti itu Allah sudah memberikan peringatan seperti yang
tercermin dalam surat Al Asyr ayat 3 : "Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kebenaran".
Pada kali ini penulis akan membicarakan masalah syariat pada sisi yang lain disamping
sudah terpapar mengenai bersyariat untuk memikirkan mengenai ayat-ayat kauniah. Juga
akan penulis ungkapkan masuknya seorang mukmin sejati dalam bersyariat sehingga
mencapai kepada tingkat hakikat syariat secara transendental. Dimana pada sisi ini
adalah bagaimana melaksanakan syariat dan merasakan keimanan yang sebenarnya dengan
tetap mengacu pada kontrol Al-Qur’an dan Al hadist.
Imam Hasan Al Banna berkata di dalam risalah ta’lim : Bagi iman yang tulus, ibadah yang
benar serta mujahadah (berjuang menundukkan hawa nafsu) melahirkan cahaya kelezatan yang Allah limpahkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-
Nya. Akan tetapi ilham, khowatir (lintasan-lintasan hati), kasyf (penyingkapan rahasia
ghaib) dan mimpi bukanlah merupakan dalil-dalil hukum syariat dan tidak dianggap kecuali
dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya (nash dari Al
Qur’an dan As Sunnah).
Di dalam menyikapi prinsip syariat, ada dua golongan/kategori yang termasuk di dalamnya,
yaitu :
Golongan pertama, golongan yang mengabaikan cita rasa yang terkandung dalam syariat,
atau mereka menilai sesuatu secara lahiriah saja tanpa melihat kepada pengertian
sesungguhnya, yang mana mereka/golongan ini mengingkari pengaruh apapun yang timbul
dari iamn yang dalam, ibadah yang benar, serta ketulusan dalam bermujahadah di dalam
mencemerlangkan akal dan memberi hidayah kepada hati.
Golongan kedua, yaitu golongan orang yang di dalam melaksanakan ibadah (bersyariat),
tidak hanya sampai kepada makna lahiriah saja, tetapi perhatian terhadap penghadapan
jiwa secara hanif (lurus) dan sungguh-sungguh dalam berjuang melumpuhkan hawa nafsu.
Di dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda :
"Akan dapat merasakan makanan iman ialah : orang yang ridho terhadap Allah sebagai
Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya (HR Muslim dari Al
Abbas). Sufyan bin usyainah pernah ditanya "Mengapakah ahlul ahwa (yang bergelimang
dalam nafsu) itu begitu kuat cintanya kepada nafsunya ?" Sufyan menjawab : "Apakah
engkau lupa firman Allah yang mengatakan : "Dan mereka itu telah dimesrakan dalam
hati-hati mereka untuk menyembah anak lembu dengan kekufuran mereka (QS. Albaqarah
: 92)".
Setiap peribadatan yang apabila kita lakukan dengan syarat sungguh-sungguh akan
mendapatkan dampak kepada hati berupa kesejukan dan kemudahan untuk melakukan
kebaikan-kebaikan yang dirihoi Allah SWT. Dan sebaliknya apabila kita melakukannya
dengan sekedarnya saja atau hanya memenuhi syarat sahnya syariat, maka kita tidak akan
mendapatkan apa-apa kecuali rasa penat dan jenuh. Sehingga terasa sekali di hati
kekakuan dan kecongkakkan yang dengan tetap bersimbulkan keislaman. Maka jadilah
budaya kita adalah budaya islam yang kaku dan jauh dari sifat kasih sayang serta
kebusukan hati yang diseliputi bungkus syariat islam. Kenyataan ini hendaknya kita
koreksi bagaimana sikap orang mukmin terhadap sesama, dan bagaimana mereka bila
disebut asma Allah.... lalu bergetar serta tersungkur dan menangis tak tertahankan.
Di dalam Al Qur’an banyak menjelaskan ciri-ciri orang mukmin sejati. Yang seharusnya
menjadi acuan dalam hidup kita dalam melakukan peribadatan kepada Allah SWT.
Bukannya lantas takluk kepada kekalahan terhadap nafsu. Yang akhirnya kita tetap
berkubang dalam kecintaan terhadap bimbingan setan yang sesat.
Kesulitan hati dalam merasakan nikmat Allah berupa kelezatan iman. Cemerlangnya hati,
kekusu’an serta berbuat baik. Ini disebabkan ada bisikan pembimbing yang setia setiap
saat dalam melakukan kekejian dan kemungkaran, yaitu setan laknatullah Sebagaimana dicantumkan dalam Al Qur’an surat Az Zkhruf 36 : "Barang siapa yang
berpaling dari dzikir kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya setan (yang
menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya".
Sedangkan dalam surat Al Mujadalah ayat 19 Alah berfirman, artinya : "Telah dikerasi
mereka oleh setan, maka setan itu telah menjadikan mereka lupa kepada menyebut Allah"
Dilanjutkan dalam surat An Nissa 142 tercantum, artinya : "Mereka gemar memperlihatkan
amalan-amalannya kepada manusia ramai dan mereka tiada menyebut Allah
kecuali hanya sedikit"
Juga dalam surat An Nur ayat 21 , artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah
setan itu menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya tidak karena karunia
Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih
(dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui".
Setelah melihat dengan jelas keterangan Al Qur’an mengenai betapa setan merupakan
penyebab utama dalam mengarahkan manusia untuk berbuat keji dan mungkar, sehingga
manusia tidak lagi mampu berbuat yang diperintahkan Allah. Namun demikian Allah
menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa Allah sendirilah yang akan mengangkat manusia
ketika manusia dalam perangkap setan. Kita tidak akan mampu menolak ajakan setan
sebab mereka berada dalam pusat hati kita, kita bagaikan terpengaruh hipnotis dimana
selalu menuruti apa yang diperintahkan setan. Maka jadilah kita orang yang selalu dalam
bimbingan setan. Hati kita menjadi keji tanpa harus melalui proses berpikir. Rasa jahat
itu muncul seketika dalam hati dan merasakan sulitnya berbuat kebajikan.
Akan tetapi kekuatan atas kesungguhan dalam menghayati perilaku syariat mengakibatkan
si pelaku menemui hakikat (kebenaran) dari apa yang dilakukan selama ini. Seperti
diungkapkan Al Qur’an mengenai shalat "bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah
perbuatan keji dan mungkar" (Al Ankabut : 45 ).
Pemahaman atas ayat tersebut adalah bahwa shalat merupakan alat pencegah dari segala
perbuatan buruk. Satu hal yang akan penulis kedepankan memperhatikan masalah shalat,
bagaimana kita menghayati dan meluruskan jiwa kita dalam menghadap kepada yang
menciptakan langit dan bumi dengan tidak sedikitpun kesyirikan dalam hati maupun
pikiran kita. Kehadiran hati, perasaan serta dialog yang telah disyariatkan. Apabila si
pelaku tadi melakukannya dengan totalitas tinggi (kaaffah), maka ia akan mendapatkan
karunia ketidakmampuan berbuat keji dan mungkar, serta akan dimudahkan untuk selalu
bersikap baik. Karena di dalam hati orang itu sudah timbul perasaan ihsan yang terusmenerus
terhadap Allah. Syariat tidak lagi menjadi beban si pelaku. Tetapi merupakan
energi bagi kehidupan serta menjadi alat komunikasi yang indah untuk selalu berdialog
dalam do’a.
Ketidak-mampuan dalam melakukan perbuatan keji dan mungkar adalah merupakan karunia
Allah, merupakan kenyataan (hakikat). Si pelaku tidak lagi merasa tertekan dan terbebani
syariat yang begitu banyak.

Berdasarkan keterangan di atas, maka kecintaan terhadap perbuatan keji dan mungkar
itu hanya dapat diatasi dengan membawakan hati tersebut selalu teringat kepada Allah
serta mengihklaskan hati kita hanya untuk Allah.
Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yusuf 24 : "Sesungguhnya wanita itu telah
bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan
pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikian itu
karena hendak memalingkan yusuf dari perbuatan jahat dan keji, karena sesungguhnya dia
termasuk hamba-hamba yang ikhlas"
Allah telah mengisyaratkan pada ayat-ayat di atas bahwa kita tidak akan mampu
beribadah dengan baik atau melakukan syariat yang begitu banyak, rasanya mustahil kita
memenuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, kecuali atas karunia
dan bimbingan-Nya. Dan untuk mendapatkan bimbingan serta ianah Allah kita diharapkan
memasrahkan diri setiap saat dalam segenap keadaan, dengan cara mengingat Allah baik
pagi maupun petang, serta mengiklaskan setiap peribadatan hanya untuk Allah semata.
Begitulah Allah memalingkan nabi Yusuf dari perbuatan tercela dengan menuntun dan dan
mencabut rasa keji dan mungkar dihatinya. Padahal saat itu kedua belah pihak antara nabi
Yusuf dan Siti Zulaiha sudah saling menginginkan, namun nabi Yusuf berserah diri kepada
Allah untuk mendapatkan burhan (penerang) dari Allah. Atas dasar keiklasan dan
pemasrahan yang kuat kepada Allah akhirnya nabi Yusuf mendapatkan karunia terlepas
dari ajakan setan.
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"


Makna Syariat

oleh Abu sangkan
Dalam makna syariat, umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit sehingga tak
jarang kehilangan substansinya. Dan akibatnya, mereka hanya melakukan ibadah
seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga yakni pembuka jalan menuju
"kebenaran syariat".
Sikap terhadap shalat misalnya, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu’an yang
terabaikan. Shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon petunjuk tetapi
telah berubah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi dengan berbagai macam larangan
dan ancaman yang mengerikan. Sehingga terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam
setiap melakukan syariat Islam. Hal ini tidak ubahnya tawanan perang yang harus
memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang betapa kejamnya sang penguasa.
Belum lagi dalam melaksanakan petunjuk Al Qur’an yang terasa dikejar target syarat
sahnya syariat selain hitung-hitungan amal, dan jarang mengarah pada pemahaman akan
fungsi syariat itu sendiri. Setiap syariat (aturan Allah) merupakan jalan dengan segala
rambu-rambunya menuju hikmah yang dikandung di dalam teks dan praktek secara
sempurna, serta pembuka tabir dibalik "firman".
Syariat bukan hanya untuk dibaca dan disucikan tanpa menyentuh isi tujuan yang dibaca,
seperti tercantum dalam surat Al Alaq 1-5 : "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah ! dan Tuhanmu yang paling
pemurah. Yang telah mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan
manusia apa yang tidak diketahuinya".
Memang, Al Qur’an adalah firman Allah yang disucikan sehingga memegangpun harus suci
dari hadast, namun hal ini bukan berarti haram bagi manusia untuk memahami sesuai
dengan kadar pemikiran dan pemahamannya. Sebab Al Qur’an itu diturunkan sebagai
petunjuk manusia dan semesta alam.
Sikap jumud (pendek akal) ini pun pernah diprotes RA Kartini pada gurunya, KH Sholeh
Darat, ketika ia mengusulkan agar Al Qur’an itu diterjemahkan. Saat itu, ia merenungkan
kondisi bangsa Indonesia yang mengalami kemunduran pemikiran. Bagi Kartini, Al Qur’an
yang begitu agung tidak hanya bacaan suci yang berpahala dan pengobat hati saja, namun
ia merupakan petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, andai Al Qur’an
sudah diterjemahkan waktu itu, insya Allah bangsa Indonesia akan sadar pada
integritasnya sehingga tidak akan mau menjadi budak Belanda.
Kata "iqra" merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa
luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al Qur’an membuka cakrawala dunia ilmu
(pengetahuan) yang dapat digali melalui kata ‘baca’. Sejarah dunia pun mengakui bahwa
pada abad ke tujuh Islam telah mengalami masa kejayaan dan peradaban yang pesat.
Islam telah berhasil mengembangkan khazanah landasan ilmu pengetahuan dan teknologi,
sehingga sampai abad ke tiga belasdilakukan secara terus-menerus penggalian dan
pengembangan ilmu pengetahuan yang kelak dijadikan landasan ilmu pengetahuan modern.


Bisa dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat yang baru
dimulai pada permulaan abad 15 sampai sekarang.
Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan
secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam,
gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan
menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui.
Dari sini muncul teori untuk menerangkan suatu gejala, ataupun teori yang disusun untuk
meramalkan gejala yang akan terjadi bila diadakan suatu percobaan tertentu dalam
laboratorium. Kemudian dilakukan eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori.
Begitu seterusnya, hingga sains natural tumbuh dan berkembang terus dari hasil
serangkaian kegiatan kaji-mengkaji secara struktural dan sistimatis silih berganti
(disebut intizhar). Hal tersebut hanya dapat terjadi dalam suatu generasi yang begitu
gigihnya melakukan intizhar (penelitian) atas dasar keislaman yang terkandung dalam Al
Qur’an.
Dan bukan dengan cara disucikan dalam makna yang keliru sehingga muncul kerancuan ilmu
pengetahuan yang diakibatkan oleh penyampaian tentang Islam yang tidak Islami.
Akibatnya bisa kita lihat dan rasakan sekarang bagaimana kebanyakan orang menganggap
belajar fisika, biologi, kimia dan ekonomi bukan ilmu islam. Mereka anti pati dengan ilmu
dunia yang dianggap bukan berasal dari Al Qur’an, dan mereka hanya kenal tentang islam
sebagai musabaqoh Al Qur’an, haji, zakat, dan shalawat nabi serta upacara-upacara
seremonial, berikut segala larangan dan ancaman, amalan dan ganjaran, tidak lebih dari
itu, dan selain itu ditolak habis.
Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815) adalah orang
pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya di bidang alkemi
yang kemudian oleh ilmuan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita
kenal sekarang sebagai ilmu kimia. Sebab Jabir yang namanya dilatinkan menjadi Geber
adalah orang yang telah melakukan intizhar dan merupakan orang pertama yang
mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral
dan mengekstraksi menjadi zat-zat kimia dan mengklasifikasi-kannya.
Di dalam sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis oleh sarjana Eropa disebutkan bahwa
Mohammad Ibnu Zakaria ar-rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat khusus untuk
melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi,
kalsinasi dan sebagainya. Buku Ar-rozi, yang namanya dilatinkan menjadi Razes, dianggap
sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang pertama di dunia, dan
dipergunakan oleh para sarjana barat, yang baru berabad-abad kemudian mempelajari
sains yang telah dikembangkan oleh umat islam, di universitas-universitas islam di Toledo
dan Cordoba, Spanyol.
Terlalu banyak ilmuwan islam dan karya mereka untuk disebutkan pada kesempatan ini,
dan begitu dalam pula pengaruh terhadap karya tokoh-tokoh ilmiah itu di Eropa dalam hal
perkembangan ilmu pengetahuan hingga masih dirasakan berabad-abad kemudian.
Apakah sebabnya pada masa dahulu umat islam giat sekali mengembangkan islam secara
mendalam baik dalam bidang hukum, filsafat, sains, maupun tasawuf. Namun sebaliknya
apakah yang kita lihat dan rasakan pada masa sekarang di abad ke dua puluh satu ini?


Di pesantren-pesantren serta perpuskaan-perpustakaan islam hanyalah tersisa berupa
kitab lusuh klasik yang "dikeramatkan" dan "dikomersilkan" seperti imriti matan,
jurumiah, bulughul marom, madzahibul arba’ah yang kesemuanya itu pelajaran-pelajaran
tata bahasa arab belaka serta ilmu-ilmu fiqih yang sudah dipatenkan. Pintu ijtihad sudah
ditutup !!
Sesungguhnya di dalam Al Qur’an banyak diperoleh ayat yang mendorong umat islam
untuk melakukan intizhar dan menggunakan akal pikiran seperti tercantum dalam ayat 101
surat Yunus memerintahkan : "Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan
intizhar/nazar apa-apa yang ada di langit dan di bumi". Bahkan dalam ayat 17-20 surat Al
Ghasiyah dipertanyakan : "Maka apakah mereka tidak melakukan intizhar dan
memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan
gunung bagaimana ia didirikan. Dan bumi bagaimana ia dibentangkan. Maka berikanlah
peringatan karena engkaulah pemberi peringatan".
Penggunaan akal pikiran untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda kekuasaan dan
kebesaran Allah ditegaskan dalam surat An-Nahl 11 : "Dia menumbuhkan bagimu dengan
air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan.
Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan
Allah) bagi orang-orang yang berfikir."
Yang kemudian dilanjutkan dalam ayat 12 : "Dan Dia menundukkan malam dan siang,
matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya.
Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang
menggu- nakan akal"
Sebenarnya didalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah menundukkan dan
mengatur perilaku matahari, bintang, dan bulan dengan perintah-Nya. Peraturan Allah
inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta beserta isinya, bagaimana ia harus
bertingkah laku. Yang kemudian oleh manusia disebut sebagai hukum alam, atau peraturan
yang diikuti oleh alam.
Lebih jelas lagi kita baca surat Fushilat ayat 11 : "Kemudian dia mengarah kepada langit
yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :"Silahkan kalian
mengikuti peritah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Jawab mereka :"Kami mengikuti
dengan suka hati".
Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala peritah dan peraturan sang
pencipta, termasuk apa yang disebut alam pada diri manusia (mikrokosmos), termasuk
segala yang ada dalam tubuh kita seperti detak jantung, darah mengalir menghantarkan
nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, nafas menghembus tanpa kita perintahkan yang
semuanya bergerak diluar kehendak kita.
Semua serba teratur dan tunduk patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan,
mereka bekerja dalam ketetapan dan fungsinya masing-masing. Namun demikian manusia
tetaplah manusia yang selalu saja tidak pernah bersukur dan menyadari bahwa semua itu
adalah karunia Allah yang maha pemurah, dan tetap saja kebanyakan manusia mengingkari
hal itu semua sebagai rahmat-Nya. Walaupun seluruh instrumen tubuh manusia itu
sesungguhnya ikut dalam peraturan islam yang merupakan ketetapan Allah.

4 Agustus 2010

Terus apanya yang salah?

oleh
 Abu sangkan



Terus apanya yang salah?
Mulailah saya bertanya dalam diri, apakah ada yang salah dalam ibadah saya? Saya
berpikir bahwa hanya diri saya yang mengalami kegelisahan tersebut namun ternyata
banyak keluhan serupa terlontar dari ikhwan-ikhwan yang juga ketat dalam menjaga
syariat.
Kalaulah saya tidak takut dosa mungkin saya akan mencari jalan lain untuk mendapatkan
kedamaian dan ketentraman. Saya juga mengintip apa yang dilakukan orang lain dalam
mencari kedamaian dan ketentraman. Dari sekian banyak yang saya temui melihat perilaku
orang lain dalam mencari solusi.
Tidak salah lagi kebathinan dan dunia klenik mistis perdukunan jadi pelabuhan jiwanya.
Sementara sebagian lagi terjebak oleh retorika ilmiah yang disajikan dengan memisahkan
tidak ada hubungannya dengan agama sama sekali., apalagi dengan dunia mantra-mantra.
Dalam hal ini saya tidak akan membahas mengenai bagaimana dan tidak akan membuka
perdebatan masalah apa yang dilakukan orang lain. Dari pergolakan jiwa saya yang
menggelegak itulah saya bertemu dengan H. Slamet Oetomo.
Lewat butiran mutiara nesehatnya itulah, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak akan
pernah ada dan mampu manusia di kolong semesta ini untuk berIslam dengan ‘kaffah’,
kecuali mendapatkan karunia dan bimbingan Allah secara langsung.
Didalam renungan saya yang sangat mengherankan. Betapa tidak, sedikitpun saya tidak
pernah merencanakan benci atau marah terhadap seseorang yang menyinggung hati. Tapi
kenapa benci dan marah itu datang tanpa bisa saya cegah. Namun sebaliknya kenapa untuk
berbuat baik dan ikhlash harus memerlukan tenaga dan upaya yang sangat luar biasa.
Kenapa kebaikan tidak menjadi terasa ringan dan mudah sehingga tak terasa beban dalam
fikiran maupun perasaan. Rasa marah berganti senyum, rasa benci menjadi kasih sayang,
dari tidak khusyu’ menjadi khusyu’ dan seterusnya. Dan seharusnyalah sifat-sifat baik ini
mengalir seperti ilham yang menuntun perilaku kita.
Suatu malam, saya keluhkan hal ini kepada Allah tentang keletihan hati dan ketidak
mampuan untuk berbuat lebih banyak menjalankan syariat Islam. Saya pasrah dan mohon
bimbingan agar ditunjukkan kejalan yang diridhoi.
Selama ini kita dipaksa untuk percaya terhadap suatu keyakinan tanpa pernah memahami
mengapa kita harus meyakininya. Keadaan inilah yang menyebabkan keyakinan seseorang
akan mudah lepas dan selalu dalam keraguan.
Misalnya begini, si Ahmad memberitahu Salman bahwa gula itu rasanya manis. Berita
dari Ahmad ini adalah bentuk informasi yang memaksa Salman untuk percaya (wajibul
yakin) kemudian dilanjutkan untuk melakukan memakan gula tersebut dan apa yang
dikatakan oleh Ahmad ternyata benar bahwa gula yang baru saja dimakannya rasanya
benar-benar manis.
Pada tingkat ini pengetahuan Salman bertambah dari wajibul yakin menjadi ainul yakin
(merasakan sendiri) kemudian menjadi haqqul yakin, karena ia betul-betul mengalami secara langsung bukan sekedar katanya si Ahmad. Akan tetapi bahkan Salman sudah
sekaligus mengisbathkan (keyakinan yang tidak bisa diubahkan) kebenaran informasi
tersebut.
Sampai di sini, keyakinan Ahmad dan Salman tidak akan mampu lagi orang lain
mengubahnya walaupun dipenggal leher sekalipun. Nah…keyakinan seperti inilah yang kita
harapkan dalam beribadah kepada Allah serta mempercayai ayat-ayat sampai kepada
keadaan yang sebenarnya (hakikinya).
Dari hasil perbincangan dengan rekan-rekan yang tergabung dalam majlis dzikir ini,
banyak pengalaman yang telah mereka lalui. Apa yang mereka katakan hampir sama
dengan apa yang telah saya lakukan. Dan ternyata mereka juga mengalami hal yang sama
atas perubahan-perubahan dalam manisnya ibadah, sehingga berkembang memasuki
keadaan hakikat yang sebenarnya dari bentuk syariat yang dilakukan.
Anda tidak usah khawatir untuk memasuki dunia iman lantas takut sesat, tidak! Saya
justru hanya mengajak melakukan apa yang telah kita dapatkan, kalau sekiranya ada
amalan yang keluar dari dasar Islam maka anda mempunyai hak untuk menentukan keluar
dari majelis dzikir ini.
Banyak orang terjebak dalam menilai sesuatu. Kita digiring kepada persoalan yang sempit.
Kerohanian tidak banyak dikenal orang Islam lantaran takut sesat seperti Syekh Mansyur
Al Hallaj atau Syekh Siti Jennar yang terkenal dengan ajaran wihdatul wujud atau
manunggaling kawula gusti. Dua orang yang dianggap sesat, menghalangi kita untuk belajar
lebih dalam ilmu hakikat.
Padahal berapa ribu ulama yang tidak sesat dalam belajar menghayati ruhiyah Islamiyah
seperti Hujjatul Islam Imam Alghazaly, Imam Annafiri, Imam Syafi’i, Imam Hambali,
Imam Hanafi, para shahabat rasul, serta Sunan Bonang, Sunan Maulana Malik Ibrahim,
Sunan Kali Jaga yang merupakan guru Syekh Siti Jennar, dan seterusnya yang hidup
dengan ruhiyah Islamiyah.
Tapi mengapa kita hanya mempersoalkan kesesatan dua tokoh tersebut. Kenapa kita tidak
melihat ulama yang tidak sesat seperti yang disebutkan tadi. Ada sentimen apa sehingga
begitu gencarnya mengekspos sesat dan bid’ah terhadap yang sungguh-sungguh dalam
bermujahadah kepada Allah yang Maha Ghaib dan mengatakan belajar ilmu hakikat ini
divonis haram.
Dan yang perlu kita catat, kesesatan itu tidak hanya pada ilmu kerohanian saja. ilmu fiqih,
ilmu ekonomi, ilmu akunting dan ilmu komputer, atau ilmu apa saja dapat dibawa menuju
kesesatan. Kenapa anda tidak pernah takut untuk belajar ilmu akunting, padahal dengan
ilmu ini orang bisa menggunakannya untuk korupsi (maling) juga ilmu yang lainnya.
Semoga kita tidak terpengaruh oleh pendapat sempit yang ia tidak pernah memasuki atau
menghayati kedalaman Islam secara menghujam hingga ke lubuk hati.
Akibatnya kita menjadi korban atas pemberitaan yang tidak seimbang. Islam yang kita
lakukan sekarang menjadi setengah hati, tidak sampai menghunjam ke dalam akar iman
yang sebenarnya. Kita tidak pernah lagi mendengar suara hati kita terharu ketika
berhadapan dengan Allah.  Apakah hati kita berguncang keras tatkala asma Allah disebutkan berkali kali?
Ketakutan kita terhadap pemahaman tasawuf, yang menurut prasangkaan kita akan
tersesat seperti Syekh Mansyur Al Hallaj atau Syekh Siti Jennar, telah membuat asma
Allah tidak lagi mampu menyejukkan dan menggetarkan jiwa. Padahal keadaan itu
merupakan tanda-tanda keimanan seseorang.
Untuk itulah, agar kita tidak terjebak dalam pemahaman sesat seperti di atas, agaknya
kita perlu menengok perjalanan sejarah pengalaman para nabi dan rasul dalam merentas
jalan keruhanian menuju lautan cinta dan kasih sayang Allah SWT.
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"

3 Agustus 2010

Perjalanan Menuju Illahi

oleh

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, yang maha mengetahui seluruh rahasia tersembunyi dan dimana
hati mukminin bergetar tatkala mendengar asma-Nya. Shalawat dan salam semoga
tercurah pada penghulu sekalian Rasul, penyempurna risalah Ilahi beserta keluarganya.
Saya ucapkan banyak terima kasih atas partisipasi rekan jamaah dzikrullah di nusantara
dalam kontribusinya pada syiar Islam di bidangnya masing-masing. Dan kepada bapak H.
Slamet Oetomo, saya juga menghaturkan terima kasih atas wejangannya yang bermanfaat
dalam menuju kehadirat Ilahy.
Dalam kesempatan ini, saya akan sampaikan perjalanan pengalaman keruhanian saya serta
apa dan bagaimana wejangan H. Slamet Oetomo tersebut. Sebelum saya bertemu dengan
Pak Haji, demikian H. Slamet Oetomo biasa dipanggil, saya tinggal di sebuah pesantren di
Bogor. Sebuah pesantren yang menekankan nilai-nilai ajaran tasawufnya Imam Algazaly.
Kami dikondisikan dengan suasana nizham tasawuf yang cukup ketat.
Namun anehnya, semakin dalam saya menekuni dunia tasawuf akhlakiah ini (bukan tarikah
seperti Naqshabandiyah, atau yang lain) justru saya mengalami rasa jenuh yang luar biasa.
Saya merasakan lelah yang sangat hebat. Dalam beribadah dan bersyariat pun terasa
banyak yang masih terlewatkan. Belum lagi tuntutan kualitas dalam melakukannya.
Saya merasa tidak mungkin melaksanakan ajaran Islam secara total yakni melaksanakan
ayat per ayat yang jumlahnya 6666 itu, ditambah lagi dengan hadist yang jumlahnya
mencapai ratusan ribu.
Saya pernah berpikir betapa ajaran Islam ini susah sekali untuk diamalkan, padahal
kita terlanjur tahu tentang segala kewajiban harus dilakukan .Baik yang berupa larangan
maupun perintah.
Dan didalam Alquran sendiri dalam surat Al-Baqarah 208 menyatakan : Wahai orang
yang beriman masuklah kalian dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.
Tiba-tiba saya menjadi sangat ngeri membaca peringatan ayat ini. Sebab kata “Kaafah”
dalam ayat tersebut berarti keseluruhan ajaran Islam, dimana dalam pemahaman saya,
kita harus melaksanakan ajaran Islam ini dengan total tanpa pilih-pilih lagi. Namun, terasa
sekali betapa berat dalam merealisasikan tuntutan Al Qur’an tersebut, padahal saya
sudah berupaya dengan sungguh-sungguh.
Mulai dari menjaga pandangan dari perbuatan maksiat serta shalat-shalat sunnah dengan
diiringi puasa nabi dawud dan mendawamkan wudhu’, sampai-sampai di tengah banyak
orang tidur lelap, saya tidak ketinggalan tahajjud. Keadaan ini saya lakukan selama
bertahun-tahun, namun begitu melihat bahwa ajaran Islam tidak hanya itu, saya pun
mengalami kebingungan. Karena terasa bahwa saya masih jauh dari kata ‘kaffah’.