Rss
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG, JANGAN LUPA KESINI LAGI WWW.AHMAD-SAHID.BLOGSPOT.COM BLOG RESMIAHMAD SAHID, Temukan Info info menarik di blog ini ya
Tampilkan postingan dengan label Buku Gratisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Gratisan. Tampilkan semua postingan

14 Agustus 2010

Karya Imam Asy-Syafi'i


Anda menginginkan kitab Al umm karya imam asy-Syafi'i? silahkan download gratis kitab Al-Umm ini klick saja kitabnya!!
 dan baca juga sejarah singkat Imam Asy-syafi'i


Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (GazaPalestina, 150 H / 767 - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar SunniIslam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Kelahiran

Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di GazaPalestina, namun diantara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

Nasab

Imam Syafi'i merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.
Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:
“Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66).



Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah

Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.
Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Di Yaman

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Baghdad, Irak

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Ar-Risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”

Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Al-Umm

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”









25 Juli 2010

Download kitab Barzanji

Ingin download kitab barzanji  ???, disini bisa anda download dengan gratis klik aja gambarnya







untuk penjelasan tentang Kitab barzanji saya berikan tulisan yang ada dalam blog bahrusshofa



Mawlid Barzanji - Kitab Sirah berwibawa


Ikhwah, dahulu malam Jumaat biasanya di surau-surau dan masjid-masjid diadakan pembacaan Mawlid Barzanji selain membaca Yasin dan bertahlil. Cuma sekarang sahaja nampaknya makin berkurangan, bukan kerana termakan racun Wahhabi yang memfatwakan bermawlid bid`ah, tetapi lebih kepada malas dan lebih suka menonton TV dari bermawlid. Jadi kebetulan ada fatwa Wahhabi kata bid`ah, maka ramai yang bersandarkan kepadanya untuk menutup kelemahan pribadi. Kalau baca mawlid bid`ah dhalalah, duduk santai-santai sambil menonton TV tu sunnat mu`akkad ke ?
Dato Ustaz Ismail Kamus (mana dulu ? Dato Ustaz ke Ustaz Dato ?) dalam satu ceramah tafsirnya yang dirakam dalam kaset dan dijual dengan tajuk besar "Tawassul", menyatakan bahawa pengarang Mawlid Barzanji, Sayyid Ja'faar al-Barzanji adalah bilal Masjid Nabi di Madinah. Ini satu kesilapan fakta kerana Sayyid Ja'faar al-Barzanji adalah Mufti Syafi`iyyah di Madinah al-Munawwarah. Aku nak tanya, dulu-dulu senangkah nak dii'tiraf sebagai mufti ? Kalau bukan ulama besar tak usah nak mimpilah. Dulu tukang kasut pun hafal al-Qur`an.
Dato Ustaz mempertikaikan "Nur Muhammad" (bab ini nanti lain masa aku cerita, cuma nak habaq mai Ustaz Utsman al-Muhammady pun ada tulis kertas kerja sokong konsep "Nur Muhammad", nak cerita panjang ooooooooooooooooooooo tak larat nak tulis sekarang, lain kali kita cerita), tetapi dia tak tolak Mawlid Barzanji, cuma katanya kita terima kitab Barzanji sebagai sastera sahaja.
Tak tahu pulak apa maksudnya dengan sastera, kalau nak disamakan dengan Hikayat Hang Tuah, Hikayat Merong Mahawangsa, Ramayana, Pandawa Lima dan sebagainya hikayat dongeng dahulu kala, aku satu sen pun tak setuju. Masakan kitab yang jadi bacaan dan amalan yang dilakukan ulama dan awam sejak berzaman dan ada pula ulama siap buat syarah nak di"turun"kan martabat jadi buku sastera. Tak masuk dek akal langsung. Kitab Barzanji ditulis oleh seorang ulama besar, bukan seorang penglipur lara. Apa yang diceritakan atau diriwayatkan ada sandaran dalam agama, samada nas yang shorih terang atau yang khofi tersembunyi.
Aku teringat waktu aku mengaji dahulu, kawanku dari Bangkok, Thailand yang berfahaman salafi (baca silapi) memfatwakan bahawa kitab Barzanji tak boleh dii'timad (yakni tak boleh dibuat pegangan) kerana dalam Barzanji diceritakan bahawa sewaktu Junjungan s.a.w. dilahirkan yang turut hadir menyambut kelahiran Junjungan s.a.w. adalah Siti Maryam dan Siti Asiyah. OOOO....dongeng ni, tak dak dalam kitab-kitab hadis. Aku diam sahaja waktu tu, maklumlah masih bodo lagi, sekarang pun masih bodo jugak sebab tu aku ikut ulama yang pandai-pandai dan tak renti-renti belajar.
Setelah aku mengaji dan mentelaah kitab karangan ulama dan kudengar fatwa ulama, rupa-rupanya ada sandaran untuk cerita tersebut dalam kitab hadis dan kitab sirah Nabawiyyah. Antaranya kitab "Dala-ilun Nubuwwah" karangan Imam al-Baihaqi (rujukan penuhnya insya-Allah akan kuberikan kemudian kerana ilmuku tertinggal dalam kitab dan kitabku dipinjam orang, aduh lemahnya diri), rujuk juga kitab "al-Mawahibul Laduniyyah"yang masyhur karangan Imam al-Qasthalani, juzuk 1, mukasurat 65 dan banyak lagi kitab-kitab sirah seperti kitab "Sirah al-Halabiyyah" karangan asy-Syaikh Burhanuddin al-Halabi juzuk 1, mukasurat 86, bab kelahiran Junjungan Nabi s.a.w.
Maka kupesan kepada kalian bila dengan ulama berhati-hatilah. Jaga mulut, jangan mentang-mentang kita duduk di hadapan berceramah dan mengajar timbul s.s. (syok sendiri) sehingga rasa kita dah setaraf dengan ulama dahulu. Lantas kita kritik karangan mereka dan tuduh mereka mencarut kerana mengarang tanpa berpandukan nas. Jangan-jangan, lagi sekali jangan.
Bagiku Barzanji itu bukanlah kitab sastera, tetapi ianya adalah satu kitab Sirah Nabawiyyah penuh wibawa ditulis oleh seorang ulama besar berwibawa dan ditulis dengan bahasa sastera yang indah menawan kalbu pecinta-pecinta Junjungan s.a.w. Ianya kitab yang menceritakan kebesaran, keagungan perjalanan hidup Insan Kamil Mukammil Utusan Allah yang teragung, bukan kitab sastera, bukan kitab hikayat semata-mata. Asy-Syaikh as-Sayyid Ja'faar al-Barzanji bukannya orang jahil. Beliau adalah ulama besar yang dii'tiraf sebagai Mufti Syafi`iyyah di Madinah al-Munawwarah, waliyUllah keturunan Junjungan Nabi s.a.w. Jadi berhati-hatilah kamu dengan ulama, ingat pesan Junjungan "Luhuumul ulama` sumuum, fa man akalaha halak" (Daging para ulama itu racun, sesiapa yang memakannya akan binasa).
Buat Dato Ustaz Ismail Kamus, maaf berbanyak, teruskan perjuangan menegakkan Islam sebenar, Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Sedikit pesanan, dalam PAS pun ramai Wahhabi dan Syiah, yang totok dan yang simpati, aaawaaas. Jangan marah, shallu 'alan Nabiy.
Allahumma sholli wa sallim wa baarik 'alaih wa 'ala aalih.

22 Juli 2010

Buku merakit komputer

Mau tau cara merakit komputer,
atau mau merakit komputer sendiri di rumah temukan jawabannya dalam buku ini silahkan down load bukunya 100% gratis
klik aja bukunya